Kegiatan survei trip-3

Pelaksanaan kegiatan penelitian status perlindungan Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) Trip III tahun 2016 untuk lokasi Kabupaten Anambas telah dilaksanakan mulai tanggal 7 s/d 19 September 2016. Kegiatan ini diikuti oleh Ir. Amran Ronny Syam, M.Si (Penanggung Jawab Kegiatan- BPPKSI), Soleh Romdon (BPPKSI), dan Aswar Rudi (BPPKSI).

Pada kurun waktu tersebut bertepatan dengan hari Raya Idul Adha, kami sempat bersilaturahmi dengan Bapak Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Anambas beserta staf dan juga dengan Bapak Bupati Kepulauan Anambas dalam acara ramahtamah. Pada Trip III ini difokuskan pada pengamatan benih ikan napoleon di sekitar P. Nyamuk (sensus visual kepadatan juvenil ikan napoleon), pengamatan dan sensus visual di KJA milik nelayan di Air Sena (Pak Awang), serta membantu dan mengarahkan mahasiswa yang kebetulan sedang melaksanakan penelitian tentang ikan napoleon di sekitar Desa Tebang, Kecamatan Palmatak, Kab. Kep. Anambas, Prov. Kepulauan Riau.

 

Pada Trip ini merupakan kegiatan terakhir dari agenda yang direncanakan selama 3 tahun di Kabupaten Kepulauan Anambas dan Natuna. Dan seluruh kegiatan penelitian tentang ikan napoleon yang di mulai pada tahun 2012 hingga 2016. Pada tahun 2012 dan 2013 di fokuskan pada aspek biologi dan dinamika populasi. Dari data tersebut menghasilkan data parameter pertumbuhan dan populasi ikan napoleon serta data kepadatan ikan napoleon dewasa di alam melalui sensus visual di berbagai tempat baik pada daerah penangkapan (sekitar Kab. Sinjai – Sulawesi Selatan dan Kab Sikka – Nusa Tenggara Timur) maupun pada daerah konservasi (Perairan Takabonerate – Kab. Selayar – Sulawesi Selatan) dari perairan sekitar Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Sikka NTT. Juga dihasilkan suatu simulasi kuota ekspor regional (sekitar Kabupaten Sinjai) dan Nasional berdasarkan kombinasi data lapangan dan data hasil pengamatan Sadovy et al., 2007.  Pada tahun 2014 hingga 2016, penelitian difokuskan pada sumberdaya benih dan peluang perdagangan ikan napoleon melalui jalur non kuota yaitu ”Sea Ranching” yaitu pembesaran ikan napoleon dari benih alam hingga dewasa sampai memenuhi ukuran perdagangan. Saat ini Pemerintah Indonesia melalui Dirjen PRL KKP, Balai penelitian dan Puslitbang serta Badan Litbang KP, juga data dari Pemda Kab. Anambas dan Natuna telah merumuskan dan mengusulkan ke pihan CITES salah satu opsi di antaranya adalah usulan eksport stockfile ikan napoleon sebanyak 60.000,- ekor dalam kurun waktu 6 bulan.  Namun demikian peluang perdagangan tersebut harus memenuhi kriteria NDF (Sustainabilitas, trassibilitas dan legalitas) seperti yang disarankan oleh CITES karena ikan napoleon telah masuk pada daftar rawan punah (Appendix II).

Selain itu diperoleh juga Gambar dari hasil pemotretan original mulai dari larva yang berukuran 9 mm (0,9 cm) yang disebut fase anakan ”Biji Beras”, ukuran 3 cm, 7 cm, fase muda yang berukuran 40 cm pada kolom air pada kedalaman 10 m, dan ikan yang siap ekspor (ukuran 1 kg) dan ukuran yg lebih dari 3 kg, serta hasil tangkapan ikan dewasa berukuran 110 cm yang didapatkan dari nelayan di Kabupaten Sikka, NTT.  Beberapa publikasi ilmiah telah dilakukan baik di Jurnal Nasional (JPPI dan JBI: tentang kepadatan dan dinamika populasi), Proseeding (tentang kuota ekspor) dan Jurnal International (Aquatic Procedia, yg diterbitkan oleh ELSEVIER yaitu tentang genetika ikan napoleon).

Email KKP

LINK TERKAIT

Statistik Pengunjung

Today 70

Yesterday 63

Week 133

Month 394

All 26262

Currently are 71 guests and no members online

Kubik-Rubik Joomla! Extensions

IKUTI KAMI