BRPSDI News – Pada tanggal 9-13 September 2019, Pertemuan Regional di hadiri oleh 5 (lima ) Negara Asean yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Kambodja yang diwakili oleh Nasioanal Focal Point dan Scientific Focal Point masing-masing Negara. Tujuan dari pertemuan regional adalah untuk menyusun beberapa indikator yang terstandar dalam mengumpulkan data informasi serta mendesain bentuk pengelolaan perikanan refugia yang dapat mengurangi tekanan dan kerusukan terhadap sumberdaya ikan dan lingkungan ( gambar 1,2,3 dan 4).

Keluaran (output) dari peremuan regional yang telah dilakukan diharapakan dapat menghasilkan draf indicator regional pengelolaan perikanan refugia di tingat regional atau menjadi sub regional khususnya di kawasan perairan Teluk Thailand (gulf of Thailand).

Dalam pengembangan indikator untuk pegelolaan perikanan refugia secara subregional ada 3 (tiga) tahapan sebagai berikut: (hasil lengkap dari diskusi terlampir).

  1. melakukan indentifikasi objektif yaitu bagaimana konsep perikanan refugia dapat menjaga stok sumberdaya ikan, lingkungan dan habitat yang kritis; memastikan agar tigkat kepuasan, kebutuhan masyarakat kawasan pesisir dapat meningkat; dan juga memastikan agar rencana pengelolaan perikana refugia dapat dilaksanakan secara efektif.
  2. Melakukan indentifikasi terhadap kriteria-kritria dari pilar penegelolaan perikanan refugia. Dalam tahapan ini aspek-aspek ekosistem, social, ekonomi, pemerintah/institusi dan cross cutting; climate change disebut dengan istilah dimensi yang kemudian akan di bagi menjadi sub demesi.
  3. Tahapan terakhir adalah merupakan lanjutan dari proses dari tahapan 1 (satu) dan 2 (dua) yaitu menentukan kriteria dan indikator dari pengelolaan perikanan refugia.

Dalam pertemuan juga dilakukan pembahasan outline buku yang akan diterbitkan oleh UN, GEF dan SEAFDEC dengan judul “Sustainability Indicators Framework For Management of Fisheries Refeugia in The South China sea and Gulf of Thailand”. Ini merupakan salah satu output dari projek utama (2017-2020) pengelolaan perikanan refugia di gulf Thailand dan laut China Selatan.

Dalam pertemuan regional juga diusulkan oleh beberapa Negara agar indikator yang disusun dalam keragka yang lebih luas yaitu Fisheries Refugia In The ASEAN Region  karena projek perikanan refugia yang sedang diakukan sudah dan akan dilakukan berlokasi di  5 (lima) negara anggota ASEAN..

Dalam agenda pertemuan ke 5 (lima) dilakukan Brainstorming Session menyusun drafting of Regional Action Plan (RAP) for management of Trans boundary Species Restrellige brochysoma (indo pacific Mackerel/ short Mackerel) in the Gulf of Thailand Sub-Region. Hasil diskusi agenda ke 5 (lima) di list beberapa komponen GAPS/ ISSUES yaitu data dan informasi; pengetahuan tentang status stok; pengelolaan respon; tingkat kesadaran masyarakat terhadap sumberdaya ikan dan lingkungan; penguatan kerjasama regional; kajian tentang dampak lingkungan dan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia.

Hasil analisa DNA sampel ikan dari projek Tran’s boundary species dari tim SEAFDEC menujukan bahwa ikan Restrellige brchysoma/ Mackerel yang tertangkap di sepanjang Gulf Of Thailand juga di temukkan di beberapa Negara tetangga seperti Vietnam. Kambodja, Malasysia dan Phillipfina.  Sehingga Thailand menawarkan pengelolaan perikanan Mackerel secara bersama atau share stock agar stok tetap berkelanjutan. Namun hal tersebut belum mendapat respon positif karena data dan analisis yang disampaikan masih belum memenuhi standar penelitian yang seharusnya.

Email KKP

LINK TERKAIT

Statistik Pengunjung

Today 38

Yesterday 61

Week 149

Month 743

All 44260

Currently are 61 guests and no members online

Kubik-Rubik Joomla! Extensions

IKUTI KAMI

     

JAJAK PENDAPAT

Bagaimana pendapat anda tentang informasi pada website BRPSDI?