Selama proses pelatihan yang disampaian oleh Mujiyanto, S.St.Pi, M.Si yang merupakan Peneliti dengan bidang kepakaran Sumberdaya dan Lingkungan dari Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan menguraikan detail metode monitoring karang dengan Metode Line Intersept Transect (LIT), metode monitoring ikan karang dan mega benthos dengan menguraikan detail metode Belt Transect dimana dengan menggunakan metode LIT dan Belt Transect merujuk pada pada metode yang kembangkan oleh English et al., (1997); Hill & Wilkinson, (2004) dan Eleftheriou & Mclntyre, (2005) dengan harapan didapatkan komposisi data:

  1. Akurasi ulangan monitoring yang tepat tanpa bergeser dari transek permanen.
  2. Akurasi data dapat diperoleh dengan baik dan lebih banyak seperti: persentase tutupan karang hidup/mati, kekayaan jenis, dominasi, frekuensi kehadiran, ukuran koloni, dan keanekaragaman jenis dapat disajikan secara lebih menyeluruh serta dapat mengukur kerapatan relative. 
  3. Struktur komunitas biota yang berasosiasi dengan terumbu karang dapat disajikan dengan baik.  
  4. Detail pola spasial dan temporal perubahan habitat (bagi pengulangan sampling).
  5. Ukuran koloni karang (noted: merupakan indikator stabilitas komunitas)
  6. Data yang efektif dan efisien untuk memperoleh persentase penutupan kuantitatif.
  7. Memerlukan peralatan minimal dan relatif sederhana, serta dapat dikombinasikan dengan teknik serupa, misalnya belt dan video transect maupun sensus ikan.

Selama proses pelatihan dan diskusi, dihasilkan bahwa personel yang akan dipersiapkan sebagai tim monitoring telah memberikan gambaran tentang kendala dalam pelaksanaan monitoring secara lebih detail dan spesifik. Beberapa kendala yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Data dan Informasi sebagai data awal (T0) dilakukan dengan menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT), jika terjadi perubahan metode dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap analisis akhir, penyajian DATA secara time series di ekosistem terumbu karang (meliputi 8 Kawasan Konservasi Perairan Nasional sebagai wilayah kerja BKKPN Kupang).
  2. Luas kawasan dan jarak antar stasiun monitoring.
  3. Jumlah stasiun permanen hasil monitoring tim peneliti LIPI dan direncanakan oleh tim untuk dilakukan penambahan kedalaman (± 10-11 meter) dan penambahan stasiun pengamatan.
  4. Jumlah personel (SDM) kurang untuk melakukan monitoring.

Diperlukan kesamaan metode dalam pelaksanaan monitoring di 8 kawasan (wilayah kerja (wilker) TNP Laut Sawu, TWP Gili Matra, TWP Kapoposang, TWP Laut Banda, TWP Padaido, SAP Raja Ampat, SAP Waigeo sebelah barat dan SAP Aru bagian tenggara). Oleh sebab itu, diperlukan SOP tentang METODE ECOLOGICAL MONITORING di wilayah kerja BKKPN Kupang. SOP dimaksudkan untuk validitas time series data yang dihasilkan selama monitoring, sehingga saran maupun rekomendasi dapat digunakan sebagai acuan dalam upaya pengelalolaan kawasan konservasi perairan yang lebih efektif dan efisien.

Email KKP

LINK TERKAIT

Statistik Pengunjung

Today 9

Yesterday 37

Week 187

Month 645

All 10778

IKUTI KAMI