Peristiwa kematian ikan massal di Danau Maninjau, merupakan hal yang sudah umum terjadi setiap tahunnya. Beberapa faktor penyebab terjadinya kematian ikan massal disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah: secara historis danau Maninjau termasuk tipe kaldera dan terbentuk secara teknovulkanik, fenomena tubo belerang, morfologi danau yang tepinya dikelilingi bukit yang terjal, dan bertiupnya angin timur yang kencang pada bulan September sampai Maret.Kondisi kematian ikan massal terparah mulai terjadi sejak tahun 1997 setelah adanya budidaya ikan dalam Keramba Jaring Apung (KJA) tahun 1992. Catatan sejak tahun 1997, 2010, 2014, 2015 dan 2016, jumlah kematian ikan pada masing-masing tahun sebagai berikut :950 ton, 100 ton, 1500 ton, 5680 ton, 2100 ton, 183 ton, 221 ton, 70 ton (yang terjadi pada Jan––26 Feb 50 ton di Bayur).Posisi KJA secara spasial tersebar hampir di seluruh perairan dangkal.

Berbagai lembaga penelitian telah melakukan monitoring dan kajian cepat diantarnya adalah: KKP, LIPI, BLHD(Balai Lingkungan Hidup Daerah) dan Perguruan Tinggi. Faktor penyebab kematian ikan massal adalah: rendahnya kandungan oksigen terlarut, rendahnya oksigen terlarut karena secara reaksi kimia telah diikat oleh gas sulfur (H2S)yang selanjutnya disebut dengan fenomena “tubo belerang”. Fenomena “tubo belerang” dipicu oleh bertiupnya angin timur yang kencang mendinginkan suhu air permukaan diikuti dengan pembalikan air yang membawa kualitas air yang tidak bagus.

 

KRONOLOGIS KEMATIAN IKAN DI DANAU MANINJAU

Kematian ikan terjadi pada seluruh lokasi perairan budidaya ikan yaitu: Maninjau, Bayua, Duo Koto, Koto Kaciak, Koto Gadang, VI Koto, Koto Malintang, Tanjung Sani dan Sungai Batang.

Berdasarkan perolehan data pemantauan lingkungan awal tahun 2016 (LIPI, 2016), terdapat anomali cuaca dan kualitas air yang telah menimbulkan dampak negatif bagi perikanan di Danau Maninjau:

  1. Nilai kandungan Oksigen terlarut  permukaan pada saat kematian ikan mencapai 0.99 mg/l (Batas toleransi > 2 mg/l), nilai rataan konduktivitas 0,147 dalam kondisi normal 0,125  ms/cm,  TDS 79,95 – 88,40 mg/l dalam kondisi normal dibawah 76,83, Sesaat sebelum kejadian kematian masal ikan pada siang harinya nilai transfaransi air mencapai 2,8 – 3,5 m umumnya dibawah 2,5 m, pH berada pada kisaran 6,89 – 7,35 pada kondisi normal karakteristik Danau Maninjau cenderung lebih alkali yang berada pada kisaran 8 – 9.
  2. Belerang sulfida  dipermukaan dengan angka maksimum 9 µ/l. Dalam kondisi normal Belerang Sulfida (S2-) tersebut di Danau Maninjau berada pada kedalaman > 20 meter.
  3. Kecepatan angin > 62 km/jam (20,7 mps) arah timur laut, dengan kecepatan angin >28 km/jam (7,9 mps) di Danau Maninjau sudut arah angin timur dan utara sudah dapat mengangkat senyawa toksik di kedalaman 18,5 m(Skala beaufort).
  4. Laporan terakhir pada tanggal 5 maret 2016 kecepatan angin timur sudah berkurang.

HASIL KAJIAN CEPAT OLEH TIM BP2KSI LINGKUNGAN PERAIRAN

Kronologi sebagai berikut: Tanggal 24 Februari sekitar pukul 16.00  hingga tanggal 25 Februari 2016 angin bertiup kencang sehingga suara ombak gemuruh dan awan selanjutnya sekitar pukul 18.00 hujan  sampai pukul 23.00. Pagi hari sekitar pukul 06.00, cuaca mendung, angin timur bertiup kencang dan menggerakan air yang terlihat berwarna biru ke arah barat secara perlahan. Hasil pengukuran kualitas permukaan menunjukan bahwa sulfida sebesar 169 µg/l, telah melewati batas normal (2 µg/l) dan oksigen terlarut sangat rendah yaitu 0,89 mg/l, batas normal untuk kehidupan ikan adalah lebih dari 4 mg/l. Pada kondisi ini terlihat ikan budidaya di KJA dan ikan perairan umum (di luar KJA) muncul ke permukaan untuk menghirup oksigen. Munculnya ikan ke permukaan menarik kawanan burung yang mencari kesempatan untuk memangsa ikan. Kondisi tersebut berlangsung sekitar 6 jam, namun kematian ikan massal tidak terjadi karena berangsur-angsur cuaca cerah kembali sehingga ketersediaan oksigen terlarut kembali dapat mendukung kebutuhan ikan untuk bertahan hidup (Gambar 1).

 

ASPEK PENGELOLAAN

  1. Kebudayaan masyarakat yang kuat secara turun temurun, bahwa lahan yang termasuk perairan adalah milik pribadi.
  2. Belum ada pengelolaan KJA (CBIB)
  3. Alat monitoring  kualitas air “buoy pluto” milik Balitbang KP sebanyak 4 (empat unit) sudah diserahkan ke pemda (DKP Kab.Agam) yang dikelola oleh kelompok petani budidaya ikan dalam KJA. Masyarakat telah memanfaatkan data, sehingga mengurangi kematian ikan budidaya.
  4. Belum diimplikasikan Peraturan Daerah (Perda) .

 

REKOMENDASI

  1. Sosialisasi dan Implementasi pelaksanaan Peraturan Daerah (PERDA) Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Kelestarian Kawasan Danau Maninjau. Olehpemangku kepentingan terkait.
  2. Kegiatan yang segera dilakukan adalah Monitoring harian kualitas perairan Danau Maninjau dengan menggunakan Bouy Plutoyang dipastikan berfungsi dengan baik di empat lokasi yaitu : Koto Melintang, Koto Gadang, Tanjung Sani dan Sungai Batang.

Email KKP

LINK TERKAIT

Statistik Pengunjung

Today 70

Yesterday 63

Week 133

Month 394

All 26262

Currently are 47 guests and no members online

Kubik-Rubik Joomla! Extensions

IKUTI KAMI