Menyelam atau populernya lebih dikenal dengan Diving mulai dikenal di Indonesia pada era tahun 1970-an, kala itu menyelam sebagai aktivitas olahraga. Siring dengan berkembangnya kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga kegiatan diving yang bersifat rekreasi dan ilmiah mulai banyak menarik minat masyarakat. Aktifitas tersebut, menandai lahirnya berbagai perkumpulan (klub-klub) selam di Indonesia.

Menyelam atau populernya lebih dikenal dengan Diving Diving merupakan salah satu kegiatan yang cukup beresiko, akan tetapi jika di ikuti dan mengikuti etika dalam penyelaman maka kegiatan ini sangat menyenangkan dan bermanfaat. Secara fisiologi penyelaman, manusia tidak diciptakan untuk beradaptasi dengan lingkungan bawah perairan, baik perairan tawar maupun laut, tetapi manusia dapat menciptakan suatu alat untuk beradaptasi dengan lingkungan perairan.

Menyelam atau populernya lebih dikenal dengan Diving Peralatan Scuba merupakan peralatan penyelaman yang disempurnakan oleh Yves Couteau dan Emile Gagnan pada tahun 1943, dan sampai sekarang masih dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan baik berupa tingkat keselamatan dan berbagai aksesoris pendukung lainnya. Alat tersebut dinamakan SCUBA (Self Contained Underwater Breathing Apparatus). Penyelaman Scuba dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan kedalaman yaitu :

  1. Penyelaman dangkal yaitu penyelaman dengan kedalaman antara 5 -10 meter
  2. Penyelaman sedang yaitu penyelaman dengan kedalaman antara 10-30 meter
  3. Penyelaman dalam yaitu melakukan penyelaman lebih dari 30 meter

Ada beberapa organisasi selam menyatakan bahwa penyelaman jika dibagi berdasarkan kedalaman ada 2:

  1. Penyelaman Rekreasi Adalah penyelaman tanpa dekompresi dengan menggunakan udara atau udara yang diperkaya (nitrox), sampai batas maksimum kedalaman 40 meter/132 feet, dan masih dalam batas waktu tanpa dekompresi dari tabel selam atau komputer selam.
  2. Penyelaman Teknikal Adalah dimana penyelaman yang bersifat konvensional, komersial atau penyelaman penelitian yang akan membawa seorang penyelam melebihi batas penyelaman rekreasional.

Penyelaman ini terdiri dari beberapa kriteria, yang bukan berarti batasan, yaitu:

  • Penyelaman lebih dari 40 meter/132 feet.
  • Memiliki perencanaan untuk perhentian dekompresi.
  • Penyelaman dengan kondisi lingkungan yang tidak terduga, yang biasanya jauh dari adanya pencahayaan.
  • Menggunakan berbagai campuran gas yang berbeda selama penyelaman untuk mengurangi perbandingan kadar nitrogen dan/atau untuk mempercepat waktu dekompresi.

Jenis penyelaman berdasarkan tujuan:

  1. Penyelaman untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara antara lain :
    • Penyelaman untukk tugas-tugas tempur
    • Search & Rescue (SAR)
    • Pemeriksaan dan Perbaikan dibawah air
    • Pengangkatan kapal tenggelam 
  2. Penyelaman komersial. Penyelaman ini dilakukan oleh penyelam profesional untuk kepentingan-kepentingan seperti konstruksi di bawah air, penambangan lepas pantai, pengangkatan kapal tenggelam dan lain-lain.
  3. Penyelaman ilmiah (Scientific Diving), penyelaman ini dilakukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan bawah air, seperti penelitian:  biologi laut, geologi, kedokteran, arkeologi dan ilmu-ilmu kelautan lainnya.
  4. Penyelaman olah raga (Sport Diving), penyelaman olah raga dilakukan untuk kepentingan kesehatan dan wisata bahari

Besar harapan kami, bahwa pembentukan club selam  “Thunnus Diving Club” ini dapat dijadikan sebagai ajang silaturahmi antar mahasiswa, para penikmat dan pencinta keindahan bawah laut di NTT untuk dapat bersama-sama mempromosikan keindahan dan keanekaragaman serta biodiversity bawah lautnya. Mengingat bahwa peran penting ekosistem di sepanjang pesisir Laut Sawu masih menjadi Pekerjaan Rumah bagi kita semua untuk dikaji, diteliti dan dipromosikan sebelum kita kedahuluan oleh pihak asing. Diharapkan agar club selam  “Thunnus Diving Club”  bersama-sama dengan civitas akademika UNKRIS untuk dapat berkolaborasi melalui program perkuliahan dan penelitian sebagaimana Tri Dharma yang melekat pada tugas dan fungsi dari bapak dan ibu Dosen dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Beberapa program kegiatan yang dapat disenergikan adalah sepertu kegiatan penelitian dasar dan terapan, kegiatan konservasi dan rehabilitasi habitat. Dimana keberadaan ekosistem terumbu karang menjadi sumber plasma nutfah, sumber makanan dan area perkembangbiakan bagi biota laut lainnya dapat terjaga dan lestari. Sekedar mengingatkan bagi adik-adik Pengurus dan Anggota Thunnus Diving Club jangan sampai lalai dalam meningkatkan prestasi di bidang akademik, sehingga dapat menyeimbangkan antara kegiatan berorganisasi dan perkuliahan, agar keduanya dapat berjalan dengan lancar.

“NEVER DIVE ALONE” jangan pernah menyelam sendiri

“WASPADA DIRA ANURAGA” yaitu “Waspada - Berpikir dan Bertindak”

Pesan dari saya senior-senior saya yang selalu terngiang di benak saya adalah “jangan pernah membedakan antar organisasi selam yang ada tetaplah bersifat seperti padi dimana semakin anda mampu semakin anda merendah, tetaplah menjaga kebersamaan antar organisasi selam yang ada” karena apapun yang mereka ajarkan, tujuan utama dari pendidikan dan pelatihan selam adalah “kemampuan dalam kewaspadaan, kemampuan berfikir, kemampuan bertindak” guna mendapatkan keselamatan dan kenyamanan selama bekerja di bawah air.

Selama saya menyelam “ikan maupun biota yang ada tidak pernah bertanya: Bapak lisensinya dari afiliasi mana?” jika mereka bisa bicara mereka pasti akan berpesan “tolong jaga dan selamatkan kami.

 

Untuk selalu diingat:

Ketika anda menyelam di kedalaman lebih dari 10 meter selalu lakukan SAFETY STOP di kedalaman 4-5 meter selama 3 menit untuk menurunkan resiko DCS (Decompression Sickness) atau DCI (Decompression illness).

Email KKP

LINK TERKAIT

Statistik Pengunjung

Today 64

Yesterday 23

Week 64

Month 950

All 25116

Currently are 83 guests and no members online

Kubik-Rubik Joomla! Extensions

IKUTI KAMI